PENGAPURAN TANAH

 

Gambaran umum ciri tanah mineral masam

Tanah mineral masam di dunia terdiri atas 7 ordo tanah. Akan tetapi tanah mineral masam terluas dan yang paling bermasalah di Indonesia adalah Ultisol dan podsolik merah kuning menurut system klasifikasi lembaga penelitian tanah. Oleh karena itu masalah tanah mineral masam di Indonesia dapat di gambarkan oleh kelakuan dan berbagai masalah tanah Ultisol dan podsolik merah kuning. Secara singkat tim lembaga penelitian tanah telah menyajikan ciri utama dari tanah podsolik merah kuning sebagai berikut:

  1. Terbentuk pada daerah dengan curah hujan antara 2.500 hingga 3.000 mm tiap tahun dengan bulan kering lebig dari 3 bulan.
  2. Terhampar pada lanskap tua bergelombang hingga berbukit dan berada pada ketinggian lebih dari 25 m diatas permukaan laut.
  3. Tekstur tanah adalah liat, struktur blok di lapisan bawah, konsistensi teguh, serta dijumpai adanya plintit serta konkresi besi.
  4. Kemasaman tanah umumnya tinggi dengan pH kurang dari 5,5.
  5. Kadar bahan organik berkisar dari rendah hingga sedang.
  6. Kapasitas tukar kation umumnya kurang dari 24 me/100g liat dan kejenuhan basa kurang dari 35 %.
  7. Permeabilitas lambat sampai baik dan sangat peka terhadap erosi.

Dari penelitian yang di adakan di Lampung ternyata bahwa disamping pH rendah dan kadar hara NPK rendah, kadar almunium dapat dipertukarkan yang cukup tinggi dapat menjadi faktor pembatas bagi usaha pertanian pada tanah podsolik merah kuning. Almunium yang dapat dipertukarkan dan yang ada didalam larutan tanah menjadi racun bagi tanaman, sehingga menjadi penyebab pertumbuhan tanaman yang buruk pada tanah tanah masam. Fosfor yang ada didalam tanah atau yang ditambahkan dalam bentuk pupuk akan segera diikat oleh Al menjadi bentuk P yang tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman.

 

Masalah serupa juga telah di kemukakan oleh Sanchez (1977) yang mengungkapkan bahwa masalah yang di hadapi pada tanah tanah tropika basah seperti halnya oxisol dan ultisol antara lain adalah fiksasi P yang tinggi, keracunan Al, kekurangan unsur unsur hara penting dan kapasitas memegang air yang rendah. Perbaikan kesuburan podsolik merah kuning dapat dilakukan melalui pangapuran. Dengan cara ini pH naik dan sifat meracun dari almunium serta keaktifan dari almunium untuk mengikat P dapat diminimumkan. Pemupukan NPK serta pemberian bahan organik dan atau pengembalian sisa panen perlu mengiringi tindakan tersebut.

 

 

Tanah Masam di Indonesia

 

Pada kondisi iklim basah seperti Indonesia bagian barat, sebagian besar kation tanah tercuci oleh air hujan, yang tertinggal adalah kation yang bersifat masam, seperti Al3+, dan H+, sehingga tanah bersifat masam. Pada tanah dengan kadar Al3+ tinggi tanaman tidak mampu tumbuh. Akar tanaman diselaputi oleh Al dan akar tanaman tidak dapat menyerap hara. Hara P dalam tanah maupun yang ditambahkan tidak tersedia karena diikat oleh Al. Hara K tidak tersedia karena terdesak oleh Al. Selain itu kejenuhan Al akan rendah apabila kadar Al tanah tinggi.

 

Maksud Pemberian Kapur

Pemberian kapur pada tanah masam dimaksudkan untuk menurunkan atau meniadakan pengaruh Al terhadap pertumbuhan tanaman, serta meniadakan

selaput Al pada akar tanaman, sehingga tanaman dapat mengambil hara dengan optimum. Pengapuran dapat meningkatkan ketersediaan hara P dan K dalam tanah. Pemberian kapur dalam tanah dapat meningkatkan pH tanah, sehingga unsur hara tanah tersedia optimum. Selain itu pengapuran dapat meningkatkan aktivitas biologi tanah.

 

Kapan Kapur Diberikan?

Batas toleransi tanaman jagung dan kedelai terhadap kejenuhan Al adalah 30 dan 15%, sehingga kapur untuk jagung dan kedelai sebaiknya diberikan apabila kejenuhan Al lebih dari 30 dan 15%. Dengan demikian, pada tanah yang sama kebutuhan kapur untuk tanaman kedelai lebih tinggi dibandingkan jagung.

Selain itu pengapuran juga diberikan karena pH tanah rendah (pH < 5,5). Pada tanah yang mempunyai pH rendah ketersediaan hara bagi tanaman menurun,

aktivitas biologi tanah berkurang, dan keracunan Al meningkat.

 

Bagaimana Menentukan Dosis Kapur?

 

Dosis kapur dapat ditentukan dengan beberapa cara:

 

1. Percobaan plot kecil (4m x 4m) sebanyak 4 petak, masing-masing ditambah 0, 1, 2, dan 4t kapur/ ha. Kebutuhan kapur ditentukan pada dosis dimana menghasilkan tanaman tertinggi;

 

2. Percobaan menggunakan gelas plastik, 6 gelas plastik diisi dengan 100 g tanah, masing-masing ditambah kapur 0; 0,1; 0,2; 0,3; 0,4 dan 0,5 g (setara 0, 2, 4, 6, 8 dan 10 t kapur/ha) disiram dengan air aqua sampai kapasitas lapang. Setelah satu bulan diukur pH nya. Kebutuhan kapur ditentukan pada dosis dimana pH hasil pengukuran mendekati 6;

 

 

 

 

3. Percobaan laboratorium, kebutuhan kapur ditentukan berdasarkan kurva hubungan penambahan larutan basa dengan pH tanah yang dicapai. Jumlah basa yang digunakan untuk mencapai pH tertentu setara dengan kebutuhan kapur yang nilainya dikonversi ke dalam satuan bobot CaCO3/ha;

 

4. Kebutuhan kapur dapat ditentukan berdasarkan hasil analisis tanah di laboratorium. Kebutuhan kapur setara dengan Al-dd, misalnya hasil analisis diperoleh 1 Al me/100g tanah, setara dengan 1t kapur/ha. Dapat juga dihitung kebutuhan kapur untuk mencapai kejenuhan Al yang kita kehendaki;

 

5. Kebutuhan kapur dapat ditentukan dengan menggunakan perangkat uji tanah kering (PUTK). Ambil 0,5g contoh tanah, masukkan ke dalam tabung reaksi, ditambah 4ml pereaksi pH 1, dikocok sampai homogen, ditambah 2 tetes pH 2, didiamkan 10 menit kemudian dicocokkan dengan bagan warna pH. Jika pH tanah < 5,5, analisis kebutuhan kapur dilanjutkan, dengan menambah tetes demi tetes sehingga warna larutan menjadi hijau, dihitung berapa tetes yang dibutuhkan. Selanjutnya dicocokkan dengan bagan kebutuhan kapur untuk mengetahui dosisnya.

 

Kapur apa yang dapat Digunakan?

Beberapa kapur yang dapat digunakan untuk pertanian adalah kapur pertanian (CaCO3), kapur tohor (Ca(OH)2), dan dolomit (CaMg(CO3)2).

 

Tanaman apa yang Perlu Dikapur?

Tanaman yang perlu dikapur adalah tanaman yang rentan terhadap kadar Al tanah. Tanaman tersebut antara lain: kacang hijau, kedelai, kacang tanah, dan

jagung. Padi gogo dan singkong toleran terhadap kadar Al. Namun perlu disadari bahwa hara tanah tersedia optimum pada pH tanah netral, sehingga pengapuran diperlukan pada pH tanah rendah (< 5,5).

 

Bagaimana Kapur Diberikan?

Pada tanaman pangan (jagung dan kedelai) kapur diberikan seminggu sebelum tanam. Pada dosis tinggi, kapur diberikan dengan cara disebar merata di atas seluruh permukaan tanah. Kemudian dicampur tanah dengan cara diaduk menggunakan cangkul atau rotary. Pada saat pengapuran kondisi (kelembaban) tanahpada kapasitas lapang atau sehari setelah hujan.

 

Pada dosis rendah, kapur diberikan dengan cara disebar di calon barisan tanaman atau lubang tanam. Kemudian dicampur dengan tanah. Kelebihan cara ini lebih efesien, namun pada musim selanjutnya pengapuran perlu dilakukan lagi, karena barisan dan lubang tanam dapat berpindah tempat.

 

 

 

 

MASALAH DAN PENGELOLAAN TANAH MASAM DENGAN PENGAPURAN

a. Potensi Tanah Masam

Potensi tanah masam di Indonesia sangatlah besar. Pada umumnya tanah di Indonesia didominasi oleh ordo tanah Ultisol (Podsolik Merah Kuning) dengan pH 4 – 5. Tanah ultisol merupakan tanah yang umumnya diusahan sebagai lahan pertanian baik itu pertanian lahan basah maupun pertanian lahan kering. Tanah ultisol sendiri mempunyai luas hingga 38,437 juta Ha di Indonesia. Sehingga pada umumnya tanah masam merupakan tanah yang tersedia untuk lahan pertanian di Indonesia.

b. Masalah Tanah Masam

Masalah tanah masam sangat kompleks. Mulai dari kandungan hara hingga mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Masalah yang umumnya terjadi pada tanah masam antara lain :

  1. Terakumulasinya ion H+pada tanah sehingga menghambat pertumbuhan tanaman.
  2. Tingginya kandungan Al3+ sehingga mearcun bagi tanaman.
  3. Kekurangan unsur hara Ca dan Mg
  4. Kekurangan unsur hara P karena terikat oleh Al3+
  5. Berkurangnya unsur Mo sehingga proses fotosintesis terganggu, dan
  6. Keracunan unsur mikro yang memiliki kelarutan yang tinggi pada ranah masam.

 

c. Tujuan, Cara dan Manfaat Pengapuran

Tujuan dari pengapuran pada intinya dalah bagaimana supaya tanah memiliki pH yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kelarutan Al dalam tanah dapat ditekan.

Cara pengapuran sendiri yang sesuai dengan rekomendasi pengapuran adalah :

  1. Tanah diolah baik itu dicangkul atau dibajak.
  2. Kapur ditabur merata diatas permukaan tanah, dengan dosis kapur sesuia dengan kebutuhan tanaman dan tingkal kejenuhan Al.
  3. Tanah diaduk hingga kedalaman 20 cm
  4. Dibiarkan selama 2 minggu baru kemudian ditanami.

Manfaat kapur yang diberikan kedalam tanah adalah :

  1. Menurunkan pH tanah
  2. Menurunkan kelarutan Al
  3. Meningkatkan kandungan unsur hara Ca dan Mg.
  4. Memperbaiki tekstur, struktur dan memantapka agregat tanah
  5. Menurunkan tingkat bahaya erosi karena agregat tanh yang mantap
  6. Memperbaiki sifat biologi tanah seperti aktivitas mikro organism.

Cara untuk menghitung kebutuhan kapur biasanya dengan mengkalibrasikan dengan kandungan Al-dd. Yaitu dengan cara :

Jika diketahui kebutuhan kapur = 1 x Al-dd artinya 1 me Ca/100g tanah untuk menetralkan 1 me Al/100 g tanah.

1 me Ca/100 gr tanah = Berat Atom Ca/Valensi x me Ca/100 g tanah

1 me Ca/100 gr tanah = 40/2 x 1 me Ca/100 g tanah

= 20 mg Ca/100 g tanah

= 200 mg Ca/1 kg tanah x 2 x 106

(asumsi kedalaman tanah 20 cm, BV = 1 gr/cm3)

= 400 kg Ca/ha

 

Untuk mengitung kebutuhan kapur pertanian :

= Berat Atom Total/Berat Atom Ca x Kebutuhan Ca

Untuk menghitung kebutuhan CaCO3 (1 x Al-dd):

= 100/40 x 400 Kg Ca/ha = 1 ton CaCO3/ha

Untuk CaO (1 x Al-dd):

= 56/40 x 400 Kg Ca/ha = 0.56 ton CaO/ha

Untuk Ca(OH)2 (1 x Al-dd):

= 74/40 x 400 Kg Ca/ha = 0,74 ton Ca(OH)2/ha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SIFAT KIMIA TANAH

 

Derajat Kemasaman Tanah (pH)

Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ didalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ion-ion lain ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya H+. pada tanah-tanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi daripada OH-, sedang pada tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak daripada H+. Bila kandungan H+ sama dengan OH- , maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH = 7 (Anonim 1991).

Nilai pH berkisar dari 0-14 dengan pH 7 disebut netral sedangkan pH kurang dari 7 disebut masam dan pH lebih dari 7 disebut alkalis. Walaupun dcmikian pH tanah umumnya berkisar dari 3,0-9,0. Di Indonesia unumnya tanahnya bereaksi masam dengan 4,0 – 5,5 sehingga tanah dengan pH 6,0 – 6,5 sering telah dikatakan cukup netral meskipun sebenarnya masih agak masam. Di daerah rawa-rawa sering ditemukan tanah-tanah sangat masam dengan pH kurang dari 3,0 yang disebut tanah sangat masam karena banyak mengandung asam sulfat. Di daerah yang sangat kering kadang-kadang pH tanah sangat tinggi (pH lebih dari 9,0) karena banyak mengandung garam Na (Anonim 1991).

C-Organik

Kandungan bahan organik dalam tanah merupakan salah satu faktor yang berperan dalam menentukan keberhasilan suatu budidaya pertanian. Hal ini dikarenakan bahan organik dapat meningkatkan kesuburan kimia, fisika maupun biologi tanah. Penetapan kandungan bahan organik dilakukan berdasarkan jumlah C-Organik (Anonim 1991).

Bahan organik tanah sangat menentukan interaksi antara komponen abiotik dan biotik dalam ekosistem tanah. Musthofa (2007) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kandungan bahan organik dalam bentuk C-organik di tanah harus dipertahankan tidak kurang dari 2 persen, Agar kandungan bahan organik dalam tanah tidak menurun dengan waktu akibat proses dekomposisi mineralisasi maka sewaktu pengolahan tanah penambahan bahan organik mutlak harus diberikan setiap tahun. Kandungan bahan organik antara lain sangat erat berkaitan dengan KTK (Kapasitas Tukar Kation) dan dapat meningkatkan KTK tanah.

Tanpa pemberian bahan organik dapat mengakibatkan degradasi kimia, fisik, dan biologi tanah yang dapat merusak agregat tanah dan menyebabkan terjadinya pemadatan tanah (Anonim 1991).

N-Total

Nitrogen merupakan unsur hara makro esensial, menyusun sekitar 1,5 % bobot tanaman dan berfungsi terutama dalam pembentukan protein (Hanafiah 2005).

Menurut Hardjowigeno (2003) Nitrogen dalam tanah berasal dari :
a.Bahan Organik Tanah : Bahan organik halus dan bahan organik kasar
b.Pengikatan oleh mikroorganisme dari N udara
c.Pupuk
d.Air Hujan

Sumber N berasal dari atmosfer sebagai sumber primer, dan lainnya berasal dari aktifitas didalam tanah sebagai sumber sekunder. Fiksasi N secara simbiotik khususnya terdapat pada tanaman jenis leguminoseae sebagai bakteri tertentu. Bahan organik juga membebaskan N dan senyawa lainnya setelah mengalami proses dekomposisi oleh aktifitas jasad renik tanah.
Hilangnya N dari tanah disebabkan karena digunakan oleh tanaman atau mikroorganisme. Kandungan N total umumnya berkisar antara 2000 – 4000 kg/ha pada lapisan 0 – 20 cm tetapi tersedia bagi tanaman hanya kurang 3 % dari jumlah tersebut (Hardjowigeno 2003). Manfaat dari Nitrogen adalah untuk memacu pertumbuhan tanaman pada fase vegetatif, serta berperan dalam pembentukan klorofil, asam amino, lemak, enzim, dan persenyawaan lain (RAM 2007).

Nitrogen terdapat di dalam tanah dalam bentuk organik dan anorganik. Bentuk-bentuk organik meliputi NH4, NO3, NO2, N2O dan unsur N. Tanaman menyerap unsur ini terutama dalam bentuk NO3, namun bentuk lain yang juga dapat menyerap adalah NH4, dan urea (CO(N2))2 dalam bentuk NO3. Selanjutnya, dalam siklusnya, nitrogen organik di dalam tanah mengalami mineralisasi sedangkan bahan mineral mengalami imobilisasi. Sebagian N terangkut, sebagian kembali scbagai residu tanaman, hilang ke atmosfer dan kembali lagi, hilang melalui pencucian dan bertambah lagi melalui pemupukan. Ada yang hilang atau bertambah karena pengendapan.

 

 

P-Bray

Unsur Fosfor (P) dalam tanah berasal dari bahan organik, pupuk buatan dan mineral-mineral di dalam tanah. Fosfor paling mudah diserap oleh tanaman pada pH sekitar 6-7 (Hardjowigeno 2003).

Dalam siklus P terlihat bahwa kadar P-Larutan merupakan hasil keseimbangan antara suplai dari pelapukan mineral-mineral P, pelarutan (solubilitas) P-terfiksasi dan mineralisasi P-organik dan kehilangan P berupa immobilisasi oleh tanaman fiksasi dan pelindian (Hanafiah 2005).

Menurut Leiwakabessy (1988) di dalam tanah terdapat dua jenis fosfor yaitu fosfor organik dan fosfor anorganik. Bentuk fosfor organik biasanya terdapat banyak di lapisan atas yang lebih kaya akan bahan organik. Kadar P organik dalam bahan organik kurang lebih sama kadarnya dalam tanaman yaitu 0,2 – 0,5 %. Tanah-tanah tua di Indonesia (podsolik dan litosol) umumnya berkadar alami P rendah dan berdaya fiksasi tinggi, sehingga penanaman tanpa memperhatikan suplai P kemungkinan besar akan gagal akibat defisiensi P (Hanafiah 2005). Menurut Foth (1994) jika kekurangan fosfor, pembelahan sel pada tanaman terhambat dan pertumbuhannya kerdil.

Kalium (K)

Kalium merupakan unsur hara ketiga setelah Nitrogen dan Fosfor yang diserap oleh tanaman dalam bentuk ion K+. Muatan positif dari Kalium akan membantu menetralisir muatan listrik yang disebabkan oleh muatan negatif Nitrat, Fosfat, atau unsur lainnya. Hakim et al. (1986), menyatakan bahwa ketersediaan Kalium merupakan Kalium yang dapat dipertukarkan dan dapat diserap tanaman yang tergantung penambahan dari luar, fiksasi oleh tanahnya sendiri dan adanya penambahan dari kaliumnya sendiri.

Kalium tanah terbentuk dari pelapukan batuan dan mineral-mineral yang mengandung kalium. Melalui proses dekomposisi bahan tanaman dan jasad renik maka kalium akan larut dan kembali ke tanah. Selanjutnya sebagian besar kalium tanah yang larut akan tercuci atau tererosi dan proses kehilangan ini akan dipercepat lagi oleh serapan tanaman dan jasad renik. Beberapa tipe tanah mempunyai kandungan kalium yang melimpah. Kalium dalam tanah ditemukan dalam mineral-mineral yang terlapuk dan melepaskan ion-ion kalium. Ion-ion adsorpsi pada kation tertukar dan cepat tersedia untuk diserap tanaman. Tanah-tanah organik mengandung sedikit Kalium.

 


Natrium (Na)

Natrium merupakan unsur penyusun lithosfer keenam setelah Ca yaitu 2,75% yang berperan penting dalam menentukan karakteristik tanah dan pertumbuhan tanaman terutama di daerah kering dan agak kering yang berdekatan dengan pantai, karena tingginya kadar Na di laut, suatu tanah disebut tanah alkali jika KTK atau muatan negatif koloid-koloidnya dijenuhi oleh ≥ 15% Na, yang mencerminkan unsur ini merupakan komponen dominan dari garam-garam larut yang ada. Pada tanah-tanah ini, mineral sumber utamanya adalah halit (NaCl). Kelompok tanah alkalin ini disebut tanah halomorfik, yang umumnya terbentuk di daerah pesisir pantai iklim kering dan berdrainase buruk. Sebagaimana unsur mikro, Na juga bersifat toksik bagi tanaman jika terdapat dalam tanah dalam jumlah yang sedikit berlebihan (Hanafiah, 2005).

Kalsium (Ca)
Kalsium tergolong dalam unsur-unsur mineral essensial sekunder seperti Magnesium dan Belerang. Ca2+ dalam larutan dapat habis karena diserap tanaman, diambil jasad renik, terikat oleh kompleks adsorpsi tanah, mengendap kembali sebagai endapan-endapan sekunder dan tercuci (Leiwakabessy 1988). Adapun manfaat dari kalsium adalah mengaktifkan pembentukan bulu-bulu akar dan biji serta menguatkan batang dan membantu keberhasilan penyerbukan, membantu pemecahan sel, membantu aktivitas beberapa enzim (RAM 2007).

Magnesium (Mg)

Magnesium merupakan unsur pembentuk klorofil. Seperti halnya dengan beberapa hara lainnya, kekurangan magnesium mengakibatkan perubahan warna yang khas pada daun. Kadang-kadang pengguguran daun sebelum waktunya merupakan akibat dari kekurangan magnesium (Hanafiah 2005).

Kapasitas Tukar Kation (KTK)

Kapasitas tukar kation (KTK) merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau tanah-tanah berpasir

 

 

 

(Hardjowogeno 2003). Nilai KTK tanah sangat beragam dan tergantung pada sifat dan ciri tanah itu sendiri. Besar kecilnya KTK tanah dipengaruhi oleh :
1.Reaksi tanah
2.Tekstur atau jumlah liat
3.Jenis mineral liat
4.Bahan organik dan,
5.Pengapuran serta pemupukan.

Soepardi (1983) mengemukakan kapasitas tukar kation tanah sangat beragam, karena jumlah humus dan liat serta macam liat yang dijumpai dalam tanah berbeda-beda pula.

Kejenuhan Basa (KB)

Kejenuhan basa adalah perbandingan dari jumlah kation basa yang ditukarkan dengan kapasitas tukar kation yang dinyatakan dalam persen. Kejenuhan basa rendah berarti tanah kemasaman tinggi dan kejenuhan basa mendekati 100% tanah bersifal alkalis. Tampaknya terdapat hubungan yang positif antara kejenuhan basa dan pH. Akan tetapi hubungan tersebut dapat dipengaruhi oleh sifat koloid dalam tanah dan kation-kation yang diserap. Tanah dengan kejenuhan basa sama dan komposisi koloid berlainan, akan memberikan nilai pH tanah yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan derajat disosiasi ion H+ yang diserap pada permukaan koloid (Anonim 1991).

Kejenuhan basa selalu dihubungkan sebagai petunjuk mengenai kesuburan sesuatu tanah. Kemudahan dalam melepaskan ion yang dijerat untuk tanaman tergantung pada derajat kejenuhan basa. Tanah sangat subur bila kejenuhan basa > 80%, berkesuburan sedang jika kejenuhan basa antara 50-80% dan tidak subur jika kejenuhan basa < 50 %. Hal ini didasarkan pada sifat tanah dengan kejenuhan basa 80% akan membebaskan kation basa dapat dipertukarkan lebih mudah dari tanah dengan kejenuhan basa 50% (Anonim 1991).

 

 

 

 

 

 

PUPUK DAN PEMUPUKAN

 

A.  Pemupukan

Ada tiga hal yang harus dipahami dalam pemupukan tanaman budidaya yaitu: (1) Tanah; (2) Tanaman; dan (3) Pupuk. Ketiganya saling berkaitan dan menunjang untuk menghasilkan tanaman yang benar-benar subur dan produktif.

a.      Tanah

Tanah mempunyai arti penting bagi tanaman. Dalam mendukung kehidupan tanaman, tanah memiliki fungsi sebagai berikut:

  • Memberikan unsur hara dan sebagai media perakaran.
  • Menyediakan air dan sebagai tempat penampungan ( reservoar ) air.
  • Menyediakan udara untuk respirasi akar.
  • Sebagai tempat bertumpunya tanaman.

Tanah yang dikehendaki tanaman adalah tanah yang subur. Tanah yang subur adalah tanah yang mampu untuk menyediakan unsur hara yang cocok, dalam jumlah yang cukup serta dalam keseimbangan yang tepat dan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan suatu spesies tanaman.

Tanah yang subur memiliki sifat fisik kimia dan biologi yang baik untuk pertumbuhan tanaman. Sifat tersebut antara lain:

b.      Struktur Tanah

Struktur tanah memang ada bermacam-macam. Akan tetapi, yang dikehendaki ialah struktur tanah yang remah. Keuntungan struktur tanah demikian ialah udara dan air tanah berjalan lancar, temperaturnya stabil. Keadaan tersebut sangat memacu pertumbuhan jasad renik tanah yang memegang peranan penting dalam proses pelapukan bahan organik di dalam tanah. Oleh karena itu, untuk memperbaiki strutur tanah ini dianjurkan untuk diberi pupuk organik (pupuk kandang, kompos, atau pupuk hijau ).

Salah satu contoh tanah yang berstruktur jelek adalah tanah liat. Tanah ini tersusun atas partikel-partikel yang cukup kecil. Sangat kecil kalau dibandingkan dengan tanah pasir. Partikel tanah liat kurang lebih sama dengan seperseratus kali partikel tanah pasir. Kehalusannya membuat tanah liat cenderung menggumpal, terlebih pada musim hujan, dan amat rakus menghisap air. Jeleknya lagi, tanah liat akan menahan air dengan ketat sehingga keadaannya menjadi lembab dan udara pun berputar cukup lambat. Bila nantinya kering,  tanah liat akan menggumpal seperti batu dan sifatnya pun kian kedap terhadap udara. Itu sebabnya kerap kali dijumpai tanah liat banyak dimanfaatkan sebagai bahan pembuat keramik dan  batu bata. Tentunya tanaman kalau ditanam pada tanah tersebut, kehidupannya akan menderita karena akarnya tak mampu menembus lapisan tanah padat.

Ada pula tanah yang struktur terlalu porous, seperti tanah pasir. Pada tanah tersebut tanaman juga tidak akan tumbuh subur. Pasalnya, sifat porous tanah tersebut sangat mudah merembeskan air yang mengangkut zat-zat makanan hingga jauh ke dalam tanah. Akibatnya, zat-zat makanan yang dibutuhkan tanaman tersebut tidak bisa terjangkau oleh akar.

Lalu, mengapa tanaman yang ditanam bukan di tanah pasir dan tanah liat masih saja tumbuh kerempeng seperti kurang makan? Kasus serupa ini memang paling banyak terjadi dan sering dikeluhkan petani. Ini ada hubungannya dengan kesuburan tanah yang meliputi: kandungan hara, derajat keasaman (pH), pengolahan tanah, dan segi perawatan lain.

c.         pH Tanah

Ada 3 alasan pH tanah sangat penting untuk diketahui:

a. Menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap oleh tanaman. Umumnya unsur hara yang diserap oleh akar pada pH 6-7, karena pada pH tersebut sebagian besar unsur hara mudah larut dalam air.

b. Derajat keasaman atau pH tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi tanaman. Pada tanah masam. Banyak ditemukan unsur aluminiun yang selain bersifat racun juga mengikat phosphor, sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Pada tanah masam unsur-unsur mikro menjadi mudah larut sehingga ditemukan unsur mikro, seperti Fe, Zn, Mn, Cu dalam jumlah yang terlalu besar. Akibatnya juga menjadi racun bagi tanaman. Pada tanah alkali, ditemukan juga unsur yang dapat meracuni tanaman, yaitu natrium (Na) dan molibdenum (Mo).

c. Derajat keasaman atau pH tanah sangat mempengaruhi perkembangan mikroorganisme di dalam tanah. Pada pH 5,5-7 bakteri dan jamur pengurai bahan organik dapat berkembang dengan baik.

Dapat disimpulkan, secara umum pH yang ideal bagi pertumbuhan tanaman adalah mendekati netral (6,5-7). Namun, kenyataannya setiap jenis tanaman memiliki kesesuaian pH yang berbeda-beda seperti yang tertera.

Tindakan pemupukan tidak akan efektif apabila pH tanah diluar batas optimum. Pupuk yang telah ditebarkan tidak akan mampu diserap tanaman dalam jumlah yang diharapkan. Karenanya, pH tanah sangat penting diketahui jika efisiensi pemupukan ingin dicapai. Pemilihan jenis pupuk tanpa mempertimbangkan pH tanah juga dapat memperburuk pH tanah.

B.  Pupuk dan Cara Pemupukan

a. Penggolongan Pupuk

Pupuk digolongkan menjadi dua, yakni pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik ialah pupuk yang terbuat dari sisa-sisa makhluk hidup yang diolah melalui proses pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai.  Contohnya adalah pupuk kompos dan pupuk kandang.  Pupuk kompos berasal dari sisa-sisa tanaman, dan pupuk kandang berasal dari kotoran ternak.  Pupuk organik mempunyai komposisi kandungan unsur hara yang lengkap, tetapi jumlah tiap jenis unsur hara tersebut rendah.  Sesuai dengan namanya, kandungan bahan organik ini termasuk tinggi.

Pupuk anorganik atau pupuk buatan adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan cara meramu berbagai bahan kimia sehingga memiliki persentase kandungan hara yang tinggi.  Contoh pupuk anorganik adalah Urea, TSP, dan KCl.  Jenis pupuk buatan sangat banyak. 

Menurut jenis dan jumlah unsur hara makro yang dikandungnya dapat dibagi menjadi dua, yakni pupuk tunggal dan pupuk majemuk.  Pada pupuk tunggal, jenis unsur hara makro yang dikandungnya hanya satu macam.  Biasanya berupa unsur hara makro primer, misalnya urea yang hanya mengandung unsur nitrogen.  Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu jenis unsur hara makro.  Penggunaan pupuk majemuk ini lebih praktis, karena hanya dengan satu kali penebaran, beberapa jenis unsur hara dapat diberikan.  Namun, dari sisi harga pupuk ini lebih mahal.  Contoh pupuk majemuk antara lain diammonium phosphat yang mengandung unsur nitrogen dan phosphor, serta pupuk NPK Mutiara yang mengandung unsur nitrogen, phosphor, dan kalium.

 

C.  Jenis-jenis Pupuk

  1. Pupuk Sumber Nitrogen

Hampir seluruh tanaman dapat menyerap nitrogen dalam bentuk nitrat (NO3-) atau ammonium (NH4+) yang disediakan oleh pupuk.  Nitrogen dalam bentuk nitrat lebih cepat tersedia bagi tanaman.  Ammonium juga akan diubah menjadi nitrat oleh mikroorganisme tanah, kecuali pada tembakau dan padi.  Tembakau tidak dapat menoleransi jumlah ammonium yang tinggi.  Untuk menyediakan nitrogen pada tembakau, gunakan pupuk berbentuk nitrat (NO3-) dengan kandungan nitrogen minimal 50%.  Pada padi sawah, lebih baik gunakan pupuk berbentuk ammonium (NH4+), karena pada tanah yang tergenang, nitrogen mudah berubah menjadi gas N2.  Umumnya pupuk dengan kadar N yang tinggi dapat membakar daun tanaman sehingga pemakaiannya perlu lebih hati-hati.

 

  1. Pupuk Sumber Phosphor

Mengandung 36% phosphor dalam bentuk P2O5.  Pupuk  ini terbuat dari phosphat alam dan sulfat.  Berbentuk butiran dan berwarna abu-abu.  Sifatnya agak sulit larut di dalam air dan bereaksi lambat sehingga selalu digunakan sebagai pupuk dasar.  Reaksi kimianya tergolong netral, tidak higroskopis, dan tidak bersifat membakar.

  1. Pupuk Sumber Kalium

Kalium Khlorida (KCl)

Mengandung 45% K2O dan khlor, bereaksi agak masam, dan bersifat higroskopis. Namun demikian, Khlor bisa berpengaruh negatif pada tanaman yang tidak membutuhkannya, misalnya kentang, wortel, dan tembakau.

Kalium Sulfat (K2SO4)

Pupuk ini lebih dikenal dengan nama ZK.  Kadar K2O-nya sekitar 48-52%.  Bentuknya berupa tepung putih yang larut di dalam air, sifatnya agak mengasamkan tanah.  dapat digunakan untuk pupuk dasar sesudah tanam.  Tanaman yang peka terhadap keraculan Cl, seperti tembakau, disarankan untuk menggunakan pupuk ini.

 

 

Kalium Nitrat (KNO3)

Mengandung 13% N dan 44% K2O.  Berbentuk butiran berwarna putih yang tidak bersifat higroskopis dengan reaksi yang netral.

  1. Pupuk Sumber Unsur Hara Makro Sekunder

Kapur Dolomit

Berbentuk bubuk berwarna kekuningan.  Dikenal sebagai bahan untuk menaikkan pH tanah.  dolomit adalah sumber Ca (30%) dan Mg (19%) yang cukup baik.  Kelarutannya agak rendah dan kualitasnya sangat ditentukan oleh ukuran butiran.  Semakin halus butirannya akan semakin baik kualitasnya.

Kapur Kalsit

Berfungsi untuk meningkatkan pH tanah.  Dikenal sebagai kapur pertanian yang berbentuk bubuk.  Warnanya putih dan butirannya halus.  Pupuk ini mengandung 90-99% Ca.  bersifat lebih cepat larut di dalam air.

Paten Kali (Kalium Magnesium Sulfat)

Berbentuk butiran berwarna kuning.  Mengandung 30% K2O, 12% S, dan 12% MgO.  Sifatnya agak sukar larut di dalam air.  Selain untuk memperbaiki defisiensi Mg, pupuk ini juga bermanfaat untuk memperbaiki kejenuhan basa pada tanah masam.

Kapur Gipsum

Berbentuk bubuk dan berwarna putih.  Mengandung 39% Ca, 53% S, dan sedikit Mg.  Ditebarkan dalam satu kali aplikasi.

Jika terkena air, gypsum yang ditebarkan akan menggumpal dan mengeras seperti tanah liat (cake).  Gypsum digunakan untuk menetralisir tanah yang terganggu karena kadar garam yang tinggi, misalnya pada tanah di daerah pantai.  Aplikasi gypsum tidak dapat mengubah pH tanah yang terlalu besar.

 

Bubuk Belerang (Element Sulfur)

Umumnya, sulfur disuplai dalam bentuk sulfat yang terdapat pada berbagai jenis pupuk.  Kandungan sulfat tersebut tidak banyak berpengaruh dalam penurunan pH tanah.  selain terdapat dalam berbagai jenis pupuk, bubuk belerang adalah sumber sulfur yang terbesar, kandungannya dapat mencapai 99%.  Namun, bubuk ini tidak lazim digunakan untuk mengatasi masalah defisiensi sulfur, tetapi lebih banyak digunakan untuk menurunkan pH tanah. penggunaannya tidak boleh melebihi 25 gram/m2, karena bubuk sulfur dapat mengakibatkan gejala terbakarnya daun tanaman (burning effect).

  1. Pupuk Sumber Unsur Hara Mikro

Saat ini kebutuhan pupuk mikro sudah mulai terasa di Indonesia.  Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa tanaman padi sawah dan teh di beberapa daerah di Jawa sudah mulai memerlukan tambahan Zn dari pupuk.  Hasil analisis tanah pada 10 propinsi di Indonesia menunjukkan, bahwa pada tanah yang mendapat program pengapuran terjadi kekurangan unsur Cu dan Zn.  Penambahan pupuk Cu dan Zn ternyata meningkatkan hasil panen yang sangat berarti.  Pada padi sawah, hasil panen meningkat 17,5%, padi gogo menunjukkan peningkatan sebesar 15%, dan pada kedelai meningkat sampai 24%.

Pupuk sebagai sumber unsur hara mikro tersedia dalam dua bentuk, yakni bentuk garam anorganik dan bentuk organik sintetis.  Kedua bentuk ini bersifat mudah larut di dalam air.  Contoh pupuk mikro yang berbentuk garam anorganik adalah Cu, Fe, Zn, dan Mn yang seluruhnya bergabung dengan sulfat.  Sebagai sumber boron, umumnya digunakan sodium tetra borat yang banyak digunakan sebagai pupuk daun.  Sumber Mo umumnya menggunakan sodium dan ammonium molibdat.

  1. Pupuk Majemuk

Pemakaian pupuk majemuk saat ini sudah sangat luas.  Berbagai merek, kualitas, dan analisis telah tersedia di pasaran.  Kendati harganya relatif lebih mahal, pupuk majemuk tetap dipilih karena kandungan haranya lebih lengkap.  Efisiensi pemakaian tenaga kerja pada aplikasi pupuk majemuk juga lebih tinggi daripada aplikasi pada pupuk tunggal yang harus diberikan dengan cara dicampur.

            Pupuk majemuk berkualitas prima memiliki besar butiran yang seragam dan tidak terlalu higroskopis, sehingga tahan disimpan dan tidak cepat menggumpal.  Hampir semua pupuk majemuk bereaksi masam, kecuali yang telah mendapatkan perlakuan khusus, seperti penambahan Ca dan Mg.

            Variasi analisis pupuk majemuk sangat banyak.  meskipun demikain perbedaan variasinya bisa jadi sangat kecil, misalnya antara NPK 15.15.15 dan NPK 16.16.16.  Berikut ini gambaran fungsi beberapa jenis analisis pupuk majemuk.

  1. Pupuk Daun

Daun memiliki mulut yang dikenal dengan nama stomata.  Sebagian besar stomata terletak di bagian bawah daun.  Mulut daun ini berfungsi untuk mengatur penguapan air dari tanaman sehingga aliran air dari akar dapat sampai ke daun.  Saat suhu udara terlalu panas, stomata akan tertutup sehingga tanaman tidak akan mengalami kekeringan.  Sebaliknya, jika udara tidak terlalu panas, stomata akan membuka sehingga air yang ada di permukaan daun dapat masuk ke dalam jaringan daun.  Dengan sendirinya, unsur hara yang disemprotkan ke permukaan daun juga masuk ke dalam jaringan daun.

Sebenarnya, kandungan unsur hara pada pupuk daun identik dengan kandungan unsur hara pada pupuk majemuk.  Bahkan pupuk daun sering lebih lengkap karena ditambah oleh beberapa unsur hara mikro.  Pemilihan analisis yang tepat pada pupuk daun perlu mempertimbangkan beberapa faktor yang sama dengan analisis pada pupuk majemuk.  Hanya saja, faktor sifat fisik dan kimia tanah tidak dijadikan sebagai faktor utama.  Sebagai faktor utamanya adalah manfaat tiap unsur hara yang dikandung oleh pupuk daun bagi perkembangan tanaman dan peningkatan hasil panen.

  1. Pupuk Organik

Kandungan bahan organik di dalam tanah perlu dipertahankan agar jumlahnya tidak sampai di bawah 2%.  Selain penambahan pupuk organik, bahan organik di dalam tanah dapat dipertahankan melalui cara-cara sebagai berikut :

-       Terapkan rotasi tanaman dengan menyertakan jenis kacang-kacangan dalam pergiliran tanaman.

-       Sedapat mungkin mengembalikan sisa tanaman ke dalam tanah.

-       Atasi erosi yang dapat menghanyutkan bahan organik tanah.

-       Tanaman penutup tanah (cover crop).  Cara ini lazim dilakukan di perkebunan kelapa sawit dan karet.

-       Minimalisasi pengolahan tanah, yakni mengolah tanah seperlunya saja.

Kandungan unsur hara yang terdapat di dalam pupuk organik jauh lebih kecil daripada yang terdapat di dalam pupuk buatan.  Cara aplikasinya juga lebih sulit karena pupuk organik dibutuhkan dalam jumlah yang lebih besar daripada pupuk kimia dan tenaga kerja yang diperlukan juga lebih banyak.  Namun, hingga sekarang pupuk organik tetap digunakan karena fungsinya belum tergantikan oleh pupuk buatan. 

 

i.        Kompos

Kompos adalah hasil pembusukan sisa-saia tanaman yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme pengurai.  Kualitas kompos sangat ditentukan oleh besarnya perbandingan antara nisbah karbon dan nitrogen (C/N rasio).  Jika C/N rasio tinggi, berarti bahan penyusun kompos belum terurai secara sempurna.  Bahan kompos dengan C/N rasio tinggi akan terurai atau membusuk lebih lama dibandingkan dengan bahan ber-C/N rasio rendah.  Kualitas kompos dianggap baik jika memiliki C/N rasio antara 12-15.

  1. Pupuk Kandang

            Pupuk kandang adalah pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak.  Kualitas pupuk kandang sangat tergantung pada jenis ternak, kualitas pakan ternak, dan cara penampungan pupuk kandang.  Tabel VI.2. di bawah ini menunjukkan pupuk kandang dari ayam atau unggas memiliki kandungan unsur hara yang lebih besar daripada jenis ternak lain.  Penyebabnya adalah kotoran padat pada unggas tercampur dengan kotoran cairnya.  Umumnya, kandungan unsur hara pada urine selalu lebih tinggi daripada kotoran padat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

boymarpaung.wordpress.com/2009/02/19/sifat-kimia-tanah/

nanogis.wordpress.com/ilmu-tanah/pengapuran/

http://kapurpertanian.com/index.php/Pengapuran/Masalah-kesuburan-tanah-masam.html

maqalah.blogspot.com/2012/02/makalah-pemupukan.html

pustaka.litbang.deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp10040.pdf

 

 

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi sendiri dapat berwujud padat (misalnya salju dan hujan es) atau aerosol seperti embun dan kabut). Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering. Hujan jenis ini disebut virga.
Hujan memainkan peran penting dalam siklus hidrologi. Lembaban dari laut mnguap, berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu turun kembali ke bumi, dan akhirnya kambali ke laut melalui sungai untuk menanggulangi daur ulang itu semua.
Jumlah air hujan di ukur menggunakan pengukur hujan atau omborometer. Ia dinyatakan sebagai kedalaman air yang terkumpul pada permukaan datar, dan diukur kurang lebih 0,25mm. Satuan curah hujan menurt SI adalah millimeter, yang merupakan penyingkatan dari liter per meter persegi.
Air hujan sering digambarkan sebagai berbentuk “lonjong”, lebar di bawah dan menciut di atas, tetapi ini tidaklah tepat. Air hujan kecil hampi bulat. Air hujan yang besar menjadi semakin leper, seperti roti hamburger; air hujan yang lebih besar berbentuk payung terjun. Air hujan yang besar jatuh lebih cepat di banding air hujan yang lebih kecil.

B.Tujuan
Tujuan dari praktium ini adalah untuk mengetahui curah hujan di suatu daerah dan mengetahui cara penggunaan alat pengukur curah hujan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Hidrologi adalah ilmu yang berkaitan dengan air di bumi, terjadinya peredaran dan agihannya, sifat-sifat kimia dan fisiknya, dan reaksi dengan lingkungannya, termasuk hubungannya dengan makhluk hidup (internatial Glossary of hidrology, 1974) [EsinSeyhan,1990]. Karena perkembangan yang ada maka ilmu hidrologi telah berkembang menjadi ilmu yang mempelajari siklus air. Jadi dapat dikatakan, hidrologi adalah ilmu yang mempelajari: presipitsai (precipitation), evaporasi (evaporation), aliran permukaan (surface stream flow), dan air tanah (groun water).
Hujan jatuh ke bumi baik langsung maupun melalui media misalnya ,elalui tanaman (vegetasi). Di bumi air mengalir dan bergerak dengan berbagai cara. Pada retensi (tempat penyimpanan) air akan menetap untuk beberapa waktu. Retensi dapat berupa retensi alam seperti daerah-daerah cekungan,danau tempat-tempat yang rendah,dll. Maupun reteni buatan seperti tampungan, sumur, embung, waduk,dll.
Air hujan sebagian mengalir meresap ke dalam kedalam tanah atau yang sering disebut dengan infiltrasi, dan bergerak terus kebawah. Air hujan yang jatuh ke bumi sebagian menguap (evaporasi dan transpirasi) dan membentuk uap air. Sebagian lagi mengalir masuk kedalam tanah (infiltrasi, perkolasi, kapiler). Air tanah adalah air yang bergerak didalam tanah yang terdapat didalam ruang-ruang antara butir-butir tanah dan di dalam retak-retak dari batuan. Dahulu disebut air lapisan dan yang terakhir disebut air celah (fissure water). Aliran air tanah dapat dibedakan menjadi aliran tanah dangkal, aliran tanah antara dan aliran dasar (base flow). Disebut aliran dasar karena aliran ini merupakan aliran yang mengisi system jaringan sungai. Hal ini dapat dilihat pada musim kemarau, ketika hujan tidak turun untuk beberapa waktu, pada suatu system sungai tertentu aliran masih tetap dan kontinyu. Sebagian air yang tersimpan sebagai air tanah (groundwater) yang akan keluar ke permukaan tanah sebagai limpasan permukaan (surface runoff) yang terkumpul di sungai yang akhirnya akan mengalir ke laut kembali terjadi penguapan dan begitu seterusnya mengikuti siklus hidrologi. (Anonim,2011)

Penyimpanan air tanah besarnya tergantung dari kondisi geologi setempat dan waktu. Kondisi tata guna lahan juga berpengaruh terhadap tampungan air tanah, misalnya lahan hutan yang beralih fungsi menjadi daerah pemukiman dan curah hujan daerah tersebut. Sebagai permulaan dari simulasi herus ditentukan penyimpangan awal (initial storage).
Hujan jatuh ke bumi baik secara langsung maupun melalui media misalnya melalui tanaman (vegetasi), masuk ke tanah begitu juga hujan yang terinfiltrasi. Sedangkan air yang tidak terinfiltrasi yang merupakan limpasan mengalir ke tempat yang lebih rendah, mengalir ke danau dan tertampung. Dan hujan yang langsung jatuh di atas sebuah danau (reservoir) air hujan (presipitasi) yang langsung jatuh di atas danau menjadi tampungan langsung. Air yang tertahan di danau akan mengalir melalui system jaringan sungai, permukaan tanah (akibat debit banjir) dan merembes melalui tanah. Dalam hal ini air yang tertampung di danau adalah inflow sedangkan yang mengalir atau merembes adalah outflow.
Kedua alat penakar hujan otomatis diletakkan pada tempat terbuka. Jarak antara penakar hujan 150 meter dari tempat penelitian. Kedua tipping bucket berada pada ketinggian 15 meter dari permukaan tanah. Tipping bucket dihubungkan dengan sebuah data logger (Delta-T Devices Ltd.,Cambridge,UK) dengan interval 5 menit untuk mendapatkan data secara terus menerus. Sebuah corong dan jerigen berukuran 65 Liter ditempatkan pada daerah yang terbuka, dengan ketinggian 1 meter diatas permukaan tanah, dan bersudut tidak lebih dari 45 derajat dari tajuk pada plot penelitian. Untuk setiap kejadian hujan, pencatatan dilakukan setiap hari dari pukul 08.00 pagi hingga selesai. Apabila pada pukul tersebut masih terjadi hujan, maka pencatatan dilakukan setelah hujan benar-benar berhenti (Anonim, 2010)

Pada alat penakar manual, untuk mendapatkan data curah hujan dalam satuan milimeter, dilakukan perhitungan dengan menggunakan persamaan curah hujan kotor (Pg). Intersepsi diperkirakan dari hasil pengukuran hujan di tempat yang terbuka ( Gross Presipitation / Pg ), Air lolos ( Troughfall / Tf ), dan Aliran Batang ( Steamflow / Sf ). Selisih antara curah hujan di tempat terbuka, air lolos, dan aliran batang merupakan besaran intersepsi hujan ( Ic ). Pemilihan vegetasi yang digunakan untuk mengukur aliran batang pada plot penelitian berdasarkan kelas diameter batang pohon. Pemilihan tersebut berdasarkan diameter pohon diatas 10 cm (Anonim, 2008)
Curah hujan yaitu jumlah air hujan yang turun pada suatu daerah dalam waktu tertentu. Alat untuk mengukur banyaknya curah hujan disebut Rain gauge. Curah hujan diukur dalam harian, bulanan, dan tahunan. Curah hujan yang jatuh di wilayah Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah bentuk medan/topografi, arah lereng medan, arah angin yang sejajar dengan garis pantai dan jarak perjalanan angina diatas medan datar. Hujan merupakan peristiwa sampainya air dalam bentuk cair maupun padat yang dicurahkan dari atmosfer ke permukaan bumi (Handoko, 2003).
Hujan yang jatuh ke bumi baik langsung menjadi aliran maupun tidak langsung yaitu melalui vegetasi atau media lainnya akan membentuk siklus aliran air mulai dari tempat tinggi (gunung, pegunungan) menuju ke tempat yang rendah baik di permukaan tanah maupun di dalam tanah yang berakhir di laut (Anonim,2011).
Peranan air dalam kehidupan sngat besar. Mekanisme kompleks kehidupan tidak mungkin berfungsi tanpa kehadiran air. Bagian terbesar bumi dan makhluk hidup juga terdiri air. Air yang berasal dari hujan merpakan fenomena alam yang paling penting bagi terjadinya kehidupan di bumi. Butiran hujan selain membawa molekul air juga membawa materi yang penting bagi kehidupan seperti pupuk bagi tumbuhan. Mesikpun air hujan sangat penting bagi kehidupan. Namun, di pihak lain Indonesia belum mampu mengamati fenomena banyaknya curah hujan yang terjadi pada suatu tempat secara otomatis dan tercatat pada database. Akibatnya data curah hujan tidak dapat di manfaatkan. (Anonim,2011)

BAB III
METODOLOGI

A.Waktu dan Tempat

• Waktu : Kamis,8 November 2012 pukul 10.00 – 12.00 WIB
• Tempat : Lab. Agriklimatologi Fakultas Pertanian Universitas Jambi

B.Alat :

• Anemometer
• Penakar Hujan Hellman
• Penakar Hujan Observatorium
• Panci Penakar Hujan
• Sangkar alat

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

• Penakar Hujan Hellman

Alat ini merupakan penakar hujan otomatis dengan tipe siphon. Bila air hujan terukur setinggi 10 mm, siphon bekerja mengeluarkan air dari tabung penampungan dengan cepat, kemudian siap mengukur lagi dan kemudian seterusnya. Di dalam penampung terdapat pelampung yang dihubungkan dengan jarum pena penunjuk yang secara mekanis membuat garis pada kertas pias posisi dari tinggi air hujan yang tertampung. Bentuk pias ada dua macam, harian dan mingguan. Pada umumnya lebih baik menggunakan yang harian agar garis yang dibuat pena tidak terlalu rapat ketika terjadi hujan lebat. Banyak data dapat dianalisadari pias, tinggi hujan harian, waktu datangnya hujan, derasnya hujan atau lebatnya hujan per satuan waktu.

Penakar hujan jenis hellman beserta bagian-bagiannya keterangan gambar :
1.Bibir atau mulut corong
2. Lebar corong
3.Tempat kunci atau gembok
4.Tangki pelampung
5.Silinder jam tempat meletakkan pias
6.Tangki pena
7.Tabung tempat pelampung
8. Pelampung
9. Pintu penakar hujan
10. Alat penyimpan data
11.Alat pengatur tinggi rendah selang gelas (siphon)
12.selang gelas
13.Tempat kunci atau gembok
14.Panci pengumpul air hujan bervolume

Panci kelas A

Pengukuran air yang hilang melalui penguapan (evaporasi) perlu diukur untuk mengetahui keadaan kesetimbangan air antara yang didapat melalui curah hujan dan air yang hilang melalui evaporasi. Alat pengukur evaporasi yang paling banyak digunakan sekarang adalah Panci kelas A. Evaporasi yang diukur dengan panci ini dipengaruhi oleh radiasi surya yang datang, kelembapan udara, suhu udara dan besarnya angin pada tempat pengukuran. Ada dua macam peralatan pengukur tinggi muka air dalam panci.

Pertama alat ukur micrometer pancing dan yang kedua alat ukur ujung paku yang dipasang tetap (fixed point). Kesalahan yang besar dari pengukuran evaporasi terletak pada tinggi air dalam panci. Oleh sebab itu muka air selamanya harus dikembalikan pada tinggi semula yaitu 5 cm di bawah bibir panci. Makin rendah muka air dalam panci, makin rendah pula terjadinya penguapan. Kejernihan air dalam panci perlu diperhatikan. Air yang keruh, evaporasi yang terukur akan rendah pula. Usahakan air jangan sampai berlumut. Tinggi air diukur dengan satuan mm.

Alat ukur mikrometer mampu mengukur dalam mm dengan ketelitian seperti seratus mm. Ketelitian pengukuran itu diperlukan karena tinggi yang diukur tidak sama besar meliputi 5 sampai 8 mm. Pada musim penghujan nilainya kecil sedangkan pada musim kemarau besar. Pengamatan dilakukan sekali dalam 24 jam ketika pagi hari. Pengamat yang setiap hari mengukur evaporasi harus mempunyai keterampilan dan kejelian melihat batas air yang diukur. Alat perlengkapannya adalah tabung peredam, termometer maksimum-minimum permukaan air yang tertampung, termometer maksimum-minimum di permukaan panci dan anemometer cup counter setinggi 30 cm di atas tanah.
Sekeliling panci harus ditumbuhi rumput pendek. Permukaan tanah yang terbuka atau gundul menyebabkan evaporasi yang terukur tinggi (efek oase). Pasanglah alat pada tempat yang terbuka tidak terhalang oleh benda-benda lain dan berada di tengah-tengah lapang rumput dari stasiun klimatologi.

Penakar Hujan Otomatis (OBS)/Observatorium

Alat pengukur hujan, mengukur tinggi hujan seolah-olah air yang jatuh ke tanah menumpuk ke atas merupakan kolom air. Bila air yang tertampung volumenya dibagi dengan luas corong penampung maka hasilnya dalah tinggi. Satuan yang dipakai adalah milimeter (mm).

Penakar hujan yang baku digunakan di Indonesia adalah tipe observatorium. Semua alat penakar hujan yang beragam bentuknya atau yang otomatis dibandingkan dengan alat penakar hujan otomatis (OBS). Penakar hujan OBS adalah manual. Jumlah air hujan yang tertampung diukur dengan gelas ukur yang telah dikonversi dalam satuan tinggi atau gelas ukur yang kemudian dibagi sepuluh karena luas penampangnya adalah 100 cm sehingga dihasilkan satuan mm. Pengamatan dilakukan sekali dalam 24 jam yaitu pada pagi hari. Hujan yang diukur pada pagi hari adalah hujan kemarin bukan hari ini.

Anemometer

Angin merupakan suatu vektor yang mempunyai besaran dan arah. Besaran yang dimaksud adalah kecepatannya sedang arahnya adalah darimana datangnya angin. Kecepatan angin dapat dihitung dari jelajah angin (cup counter anemometer) dibagi waktu (lamanya periode pengukuran). Ada alat pengukuran angin yang langsung mengukur kecepatannya. Jadi jarum penunjuk suatu kecepatan tertentu bila ada angin. Arah angin ditunjukkan oleh wind-vane yang dihubungkan dengan alat penunjuk arah mata angin atau dalam angka. Angka 360 derajat berarti ada angin dari utara, angka 90 ada angin dari timur demikian seterusnya.

Perlu diperhatikan bahwa tidak ada angka nol, karena angka nol menandakan tak ada angin. Mengukur arah angin haruslah ada angin atau cup counter anemometer dalam keadaan bergerak. Sebagaimana alat lainnya pemasangan alat di lapang terbuka penting sekali karena mempengaruhi besaran yang akan diukur. Di lapangan terbuka tak ada pohon-pohonan tinggi alat dipasang 2 meter di atas tanah. Bila ada halangan, alat dipasang pada ketinggian 10 sampai 15 meter dari atas tanah. Waktu pengamatan tergantung dari data yang diinginkan. Bila data harian, pengamatan sekali dalam 24 jam untuk jelajah angin yaitu pada pagi hari.
Waktu pengamatan arah angin lebih dari sekali dalam 24 jam. Arah yang paling banyak ditunjuk dalam 24 jam merupakan arah rata-rata dalam hari tersebut.
Sensor yang menghubungkan dengan alat mencatat otomatis disebut anemograf. Alat ini mencatat kecepatan dan arah angin setiap saat pada kertas pias. Alat pencatat ini ada yang harian, mingguan ataupun bulanan.

Sangkar Meteorologi

Sangkar meteorologi umumnya dipasang di dalam taman alat-alat meteorologi, bentuknya terlihat seperti pada gambar.
Keterangan :
1. Beton 1 : 2 : 3
2. Permukaan Lantai Sangkar
3. Pintu Sangkar 2 (dua) daun, bagian muka dan belakang.
4. Papan Penutup Ruang Sangkar ( tebal 2 cm ) berlubang 5 (lima) @=2,5 cm.
Didalam sangkar Meteorologi dipasang alat-alat seperti Thermometer bola kering, Thermometer bola basah, Thermometer maximum, Thermometer minimum, dan Evaporimeter jenis piche. pada stasiun meteorologi pertanian dan klimatologi dipasang Evaporometer jenis Keshner tersendiri.

Pemasangan alat-alat meteorologi didalam sangkar dimaksudkan agar hasil pengamatan dari tempat-tempat dan waktu yang berbeda dapat dibandingkan satu sama lain. Selain itu, alat-alat yang terdapat didalamnya terlindung dari radiasi matahari langsung, hujan dan debu.

BAB V
KESIMPULAN

1. Curah hujan yaitu jumlah air hujan yang turun pada suatu daerah dalam waktu tertentu
2. besarnya curah hujan yang dihasilkan setiap harinya tidak dapat dipastikan, kadang naik dan bisa juga turun. Ini semua tergantung pada evaporasi yang terjadi,kelembaban suatu daerah, tiupan angin,letak daerah tersebut dan faktor-faktor lainnya.
3. Semakin banyak panas yang diterima maka semakin tinggi evaporasi yang dihasilakan dan begitu juga sebaliknya. Ini semua dipengaruhi oleh besar kecilnya pengaruh penyinaran matahari yang diterima,sehingga ikut mempengaruhi jumlah penguapan yang dihasilkan.
4. Berarti hubungan antara curah hujan dan evaporasi berbanding berbanding terbalik dimana jika evaporasinya besar mak curah hujannya kecil begitu juga sebaliknya sehingga terbukti bahwa dalam waktu satu minggu terjadi defisit air, yaitu nilai evaporasinya lebih tinggi dibanding curah hujan.
5. Sifat hujan adalah perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan nilai rata-rata atau normal dari bulan tersebut di suatu tempat

DAFTAR PUSTAKA

http://echievitanovita.blogspot.com/2011/12/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html.

http://ferdytheboyz.blogspot.com/2011/11/laporan-agroklimatologi-tentang-curah.html